BLOGGER TEMPLATES - TWITTER BACKGROUNDS

Sunday, December 14, 2008

Pada setiap Lebaran sekitar 100.000 warga Minang (atau lebih dikenal orang Padang) di rantau (daerah tempat mereka bekerja/berusaha di luar propinsi Sumbar) mudik ke kampung halaman masing-masing. Mereka antara lain pulang ke Bukittinggi, Padang, Batusangkar, Padangpanjang, Payakumbuah, dan Solok. 

"Saat-saat seperti inilah kami bisa pulang ke kampung halaman, berhenti berusaha sejenak di rantau. Uang masih bisa dikejar, tapi kesempatan pulang kampung sulit dicari...," kata Jamali (35) asal Singkarak, Solok. Dia sudah delapan tahun berdagang di Palembang, dan sukses. 

Sejumlah perantau lain memberi alasan hampir serupa, mengapa dia mudik. Mereka yang mudik umumnya sudah tergolong sukses berusaha. Sedang yang belum atau masih baru mulai berusaha, baru berniat pulang kalau sudah berhasil di rantau. Pada diri perantau, ada rasa malu pulang kampung, kalau tidak membawa apa-apa. 

Perantau yang tidak (sempat) mudik umumnya hanya berkirim wesel saja kepada anggota keluarganya di kampung. Makanya jangan heran, menjelang Lebaran ini puluhan ribu lembar wesel mengalir ke kampung-kampung di Sumbar dengan nilai moninal antara Rp 15 -20 milyar. 

Uniknya, kalau mereka pulang sering bersama-sama dengan orang sekampung, misalnya sesama orang Solok. Artinya mereka melakukan gerakan "Pulang Basamo", mungkin dengan mencarter sejumlah bus atau dengan iring-iringan kendaraan pribadi. Dari rantau mereka sudah punya konsep, saat pulang apa yang harus dikerjakan (dibaktikan) kepada kampung halaman. Biasanya adanya yang melakukan bakti sosial, membangun mesjid, sekolah, dan sebagainya. Pokoknya, bagaimana membuat kampung lebih baik dan maju. 

Nilai egaliter yang dijunjung tinggi oleh perantau Minang mendorong mereka mempunyai harga diri yang tinggi. Nilai kolektif yang didasarkan struktur sosial matrilineal yang menekankan tanggung jawab yang luas mulai dari kaum ke masyarakat nagari (desa), menyebabkan mereka merasa malu kalau tidak berhasil menyumbangkan sesuatu kepada kerabat dan masyarakat nagari-nya. 

CERITA kesuksesan para perantau, terkadang menjadi daya tarik tersendiri bagi warga di kampung asal (darek), terutama di kalangan kaum lelaki muda. Dapat ditebak, ketika para perantau kembali ke rantau, mereka akan membawa serta satu-dua anggota keluarga atau orang sekampung untuk "mengubah" nasib (bekerja). 

Ada ungkapan adat, mengambil contoh pada yang sudah, mengambil tuah pada yang menang (Mengambil contoh kepada yg sudah berlalu, mengambil tuah kepada yg menang). Budaya merantau lelaki Minang bukan karena tak ada lahan pekerjaan di kampung halaman, tetapi karena ada semacam tuntutan. 

Menurut Sosiolog IKIP Padang, Dr Imran Manan, rantau sebagai bagian integral dari alam, selalu dimanfaatkan untuk memperkaya darek, baik dengan kebudayaan ideal maupun dengan kekayaan material. Orang Minangkabau merantau karena ingin memberi arti dan harga yang tinggi terhadap hidup. Kata pusaka orang Minang mengatakan bahwa: hiduik bajaso, mati bapusako (hidup berjasa dan mati berpusaka). Karena itu orang Minangkabau bekerja keras untuk dapat meninggalkan, mempusakakan sesuatu bagi anak-anaknya, kemenakan, dan cucu-cucunya. Struktur sosial Minangkabau yang memberi tanggung jawab berat kepada laki-laki Minang telah mendorong lebih lanjut pemenuhan tuntutan untuk bekerja kepada kerabat dan kampung halamannya. Nilai hidup yang baik dan tinggi ini, lanjutnya, telah menjadi pendorong orang-orang Minang untuk selalu berusaha, berprestasi, dan dinamis. 

 

Sejalan dengan makna hidup bagi orang Minang, yaitu untuk berjasa kepada kerabat dan masyarakatnya, maka kerja merupakan kegiatan yang sangat dihargai. Dalam kaba Rancak di Labuah dikatakan, bahwa kerja merupakan hukum dalam hidup. Hasil kerjalah yang bisa membuat orang dapat meninggalkan pusaka bagi anak kemenakan. 

Dengan hasil kerjalah dapat dihindarkan hilang rono dek panyakik, hilang bangso dek indak baameh (Hilang Rona karena penyakit, hilang bangsa karena tidak mempunyai emas/berharta). Karena menurut adat emas pendinding malu, kain mendinding miang. 

Orang Minang disuruh bekerja keras seperti diungkapkan dalam fatwa adat; 

kayu hutan bukan andalas, 

elok dibuat jadi almari, 

tahan hujan berani berpanas, 

begitu orang mencari rezeki. 

 

Dari etos kerja ini maka anak-anak muda yang punya tanggung jawab di kampung di suruh merantau. Mereka pergi ke rantau untuk mencari apa-apa yang mungkin dapat disumbangkan kepada kerabat di kampung, baik materi maupun ilmu. 

Missi budaya ini telah menyebabkan orang Minang terkenal di rantau sebagai makhluk ekonomi yang ulet. Etos kerja keras ini lebih ditingkatkan lagi oleh pandangan ajaran Islam yang mengatakan orang harus bekerja dalam hidup seakan-akan dia akan hidup selamanya, tetapi harus beramal terus seakan-akan dia akan mati besok. "Didorong oleh keinginan berjasa dan selalu menggunakan alam untuk dimanfaatkan, maka orang Minang terdorong untuk selalu kreatif.


diposting:Yudi Febrianda (saniangbakagroup)

http://groups.yahoo.com/group/saniangbaka